Revolusi Emansipasi Perempuan Indonesia
Kaum Perempuan Indonesia Bersama Ibu Negara, Bangkitlah
ANEKAFAKTA.COM,Jakarta
Saat ini terjadi pembiaran terhadap kaum perempuan dan anak Indonesia. Tanpa adab yang berwarna Indonesia, tanpa upaya serius melindungi Bangsa Indonesia, terutama kaum perempuan dan anak-anaknya.
Perlu upaya serius, yang lebih progresif dan revolusi emansipasi perempuan Indonesia. Hal itu ditegaskan Aktivis Politik Perempuan dan Anak, Esther Riyan Megah Mandalawati, menyikapi kondisi perempuan Indonesia jelang Hari Kartini, Hari Emansipasi Perempuan Indonesia.
"Saya melihat, terjadi pembiaran. Pembiaran terhadap kondisi kaum perempuan dan anak Indonesia. Perlu upaya sangat serius untuk mengembalikan peran dan fungsi serta tugas-tugas kepada kaum perempuan Indonesia," tutur Esther Riyan Megah Mandalawati, ketika berbincang dengan wartawan, di Jakarta, Jumat (06/03/2020).
Yang paling miris, lanjut Ibu dari satu anak ini, kondisi sosial dan ekonomi Indonesia saat ini, yang dipengaruhi juga dengan kondisi politik Indonesia, membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sangat bergantung pada Negara lain. Indonesia menjadi bangsa yang malas. Itu tergambar dari anak-anaknya yang sudah tidak memiliki semangat kerja keras, kehilangan semangat gotong royong, dan hanya mengedepankan media sosial dan kemajuan teknologi yang berekses negative.
"Kerja keras itu sudah menurun. Sangat jauh menurun. Anak-anak Indonesia dibiarkan dan dibiasakan dengan akses dan kemajuan teknologi yang sangat bebas. Menjadi malas. Semuanya instan. Mau makan ada go food, ada go send, ada go pay. Makin banyaklah penyakit kalau ini dibiarkan terus. Ini berbahaya kalau tidak dilakukan gerakan politik perempuan Indonesia yang serius untuk mengembalikannya kepada keindonesiaan yang maju," tutur Esther Riyan Megah Mandalawati.
Bukan hanya itu, hubungan sosial, perilaku kriminal dan brutal, masa bodo dan berbagai perangai yang jauh dari keberadaban Indonesia kian rusak.
Esther menyarankan, hendaknya setiap partai politik membuat lembaga kajian perempuan, yang hasil kajiannya sebagai masukan kepada lembaga Negara dan pemerintah untuk melindungi dan mengembangkan perempuan Indonesia.
Penghargaan dan penghormatan terhadap kaum perempuan Indonesia pun kini kian suram. Peran serta kaum perempuan untuk mengurus keluarga, masyarakat dan negaranya masih tenggelam.
"Prestasi perempuan sering tenggelam, kenapa tidak timbul-timbul? Kenapa ditutupi. Mulai pintar membuat sulaman, tenun, olah raga, nyanyi, pendidikan, kesehatan, itu semua banyak peran dan prestasi perempuan," jelasnya.
Tumbuhnya kenakalan remaja, dimana masyarakat Indonesia dengan kaum perempuan dan remajanya ditaksir mencapai 70 persen, menjadi persoalan yang harus segera diatasi.
"Tugas kita, sebagai perempuan berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa, maka kode etik perilaku itu harus dipegang teguh dan dilakukan. Kaum perempuan yang anti narkoba, anti kekerasan, anti kriminalitas. Dan meningkatkan peradaban itu harus dilakukan secara bersama-sama, khususnya oleh kaum Ibu Indonesia," tutur Esther.
Menyinggung peran-peran kaum perempuan secara nasional, Esther setuju bahwa peran Ibu Negara itu perlu diwujudnyatakan dalam berbagai kegiatan dan kebijakan untuk melindungi kaum perempuan dan anak-anak Indonesia.
Esther mencoba me-review peran-peran Ibu Negara dari beberapa masa pemerintahan Indonesia. Hampir semuanya memiliki peran dan fungsi strategis nyata bagi Indonesia. "Mulai dari era Soekarno, Ibu Fatmawati. Ibu Tien di eranya Pak Harto, Ibu Ainun Habibis, Ibu Sinta Nuriah, Ibu Ani Yudhoyono, mereka memiliki kekhasan dan peran-peran Ibu Negara," tutur Esther.
Demikian pula di Negeri Paman Sam, isterinya Barrack Obama, Michelle, juga memiliki peran nyata bagi negerinya.
"Saya yakin setiap Ibu Negara kita juga memiliki peran yang nyata. Jika untuk kaum perempuan Indonesia, dan anak-anak Indonesia, kita siap mendukung dan beraktivitas bersama Ibu Iriana Jokowi. Peran-peran perempuan Indonesia perlu dibangkitkan dengan baik dan terarah," ujarnya.
Bagi Esther, Indonesia saat ini sangat memerlukan sebuah system yang mampu mengakomodir dan melindungi serta mengembangkan kaum perempuan dan anak Indonesia.
"Menciptakan suatu system yang benar terhadap kaum perempuan Indonesia. Tidak semua perempuan itu Ibu, tetapi semua Ibu pasti perempuan. Libatkan kaum perempuan untuk membangun Indonesia secara nyata. Mendidik Bangsa ini, menjaga perilaku bangsa ini secara etis dan beradab," jelasnya.
Banyak potensi kaum perempuan Indonesia yang bisa dikembangkan memajukan bangsa dan Negara Indonesia. Karena itu, kerjasama dan kerja bersama Negara, pemerintah, Ibu Negara, para Isteri Kepala daerah, Ibu-ibu pejabat dan semua elemen perempuan mesti bergerak nyata menjaga anak-anak Indonesia, membangun paradigm perempuan Indonesia yang sehat, baik dan benar.
"Jangan jadikan kaum perempuan Indonesia hanya sekedar pelengkap penderita," ujar Esther.JON/Red

Posting Komentar