KOWANI Peduli Wanita Indonesia Yang Terdampak Pandemi Covid-19
Jakarta,ANEKAFAKTA.COM
Dampak buruk Pandemi Covid-19 merusak sendi perekonomian dan hubungan sosial jangka panjang. Menyikapi hal ini Kongres Wanita Indonesia (Kowani) terpanggil untuk membantu warga yang terdampak langsung secara ekonomi dan layanan konseling.
Kowani merupakan federasi dari organisasi kemasyarakatan wanita Indonesia tingkat nasional. Kowani didirikan tahun 1928 ini menjadi jaminan sebuah organisasi yang mumpuni dengan banyak penghargaan nasional, regional maupun internasional.
Kowani yang kini dipimpin Dr. Ir. Hj. Sri Woerjaningsih, menjadi payung bagi 97 organisasi wanita tingkat pusat. Kiprah Kowani yang memiliki anggota sekitar 87 juta wanita di seluruh Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata dan organisasi ini menjadi role model bagi semua oeganisasi wanita lain nya termasuk dalam menghadapi dampak buruk covid 19 ini yang melanda dunia dan indonesia
"Dampak buruk dari pandemi ini tidak hanya mengancam kesehatan dan jiwa, tapi juga merusak sendi-sendi ekonomi masyarakat. Bahkan dampak pandemi ini tidak hanya sesaat. Karena bila pandemi ini sudah hilang dari Indonesia, dampak ekonomi dan sosialnya bisa lama," ujar pengusaha wanita Giwo Rubianto Wiyogo di Kantor Pusat Kowani di Jakarta, Kamis (30/4/2020).
Menurut Giwo, menghadapi Pandemi Covid-19 ini Kowani memiliki program jangka pendek dan jangka panjang. "Kowani memiliki program-program diantaranya, bantuan bagi korban Covid-19, dengan memberikan bantuan masker dan APD serta bantuan sembako bagi korban PHK, dan bagi warga yang terdampak langsung dari musibah ini," ucap Giwo.
Untuk menyikapi dampak negatif jangka panjang, Kowani memiliki program kajian, program konseling, program bimbingan bagi perempuan yang saat ini mengalami tekanan karena "stay at home" dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Semua bisa dilakukan dengan tele conference memanfaatkan teknologi digital.
KDRT selama masa pandemi ini menurut Giwo merupakan efek tak langsung dari kebijakan Lock Down, Stay at Home atau PSBB. "Sewaktu menjadi Ketua KPAI (Komisi Perlidungan Anak Indonesia), pernah ada penelitian yang menyebut KDRT terhadap wanita dan anak lebih sering terjadi disaat hari libur, biasanya Sabtu dan Minggu," ujar mantan Ketua KPAI kelahiran 8 Mei ini.
Meskipun menurut data dari YLBH Apik dan Komnas Perempuan, belum terlihat ada kenaikan yang signifikan dari kasus KDRT selama PSBB. Namun Giwo khawatir banyak terjadi KDRT yang tidak dilaporkan. Hal itu bisa terjadi karena banyak wanita Indonesia yang tidak memiliki akses untuk melaporkan tindak KDRT. "Apalagi sekarang dalam masa PSBB, mungkin mereka mau melapor tapi tunggu masalah Covid-19 ini selesai," ujar Giwo
Sebagai sesama wanita, Giwo menghimbau kepada semua wanita Indonesia agar bisa mengambil hikmah dari musibah ini. Manfaat kesempatan stay at home ini untuk menjadi pendidik yang baik bagi anak-anak dan menjadi ibu rumah tangga yang melayani anggota keluarga dengan baik.
"Memang sulit mengubah kebiasaan yang sehari-hari kerja, keluar rumah dan memiliki family time hanya di akhir pekan. Kini bertemu terus selama berminggu-minggu. Sudah pasti akan muncul banyak persoalan dan konflik. Apalagi jika suaminya menjadi korban PHK dan seharusnya di saat ada banyak peluang bersama di dalam rumah dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak. Karena hikmahnya, kita sudah diberikan kesempatan yang terbaik untuk saling asih, asah dan asuh ," tutup Giwo.
Red/anekafakta.com


Posting Komentar