Merajut Kedamaian di Tengah Riuh: Catatan Tenang atas Pernyataan Gus Yahya
Oleh MS.Tjik.NG
Tangerang,- Anekafakta.com
Dalam beberapa hari terakhir, ruang-ruang percakapan kita baik yang nyata maupun yang digital dipenuhi beragam reaksi atas pernyataan Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, bahwa dirinya tidak akan mundur dari jabatan yang sedang beliau emban.
Pernyataan tersebut dengan cepat menyebar, dibicarakan ulang, ditafsirkan, bahkan diperluas konteksnya oleh berbagai pihak yang mencintai NU. Situasi ini membuat sebagian warga nahdliyin merasa gelisah, sebagian lainnya mencoba memahami, dan sebagian lagi memilih diam sambil menunggu perkembangan selanjutnya.
Namun, di tengah riuh rendah itu, ada ruang bagi kita untuk bernafas lebih panjang. Ada ruang untuk merenung, melihat persoalan ini bukan sebagai badai yang menghantam, melainkan sebagai fase yang dapat dilalui dengan kepala dingin. Karena NU, sejak kelahirannya tahun 1926 hingga hari ini, telah berkali-kali melewati dinamika internal yang jauh lebih keras daripada debat publik yang kini mencuat ke permukaan.
Dan setiap kali badai datang, NU selalu menemukan jalannya kembali menuju kesejukan.
Narasi ini tidak dimaksudkan untuk membela, menyalahkan, atau mengadili siapa pun. Ia ditulis sebagai ruang teduh, sebagai ikhtiar kecil agar kegaduhan tidak menjadi bara berkepanjangan. Semoga dapat sedikit meredakan hati para pecinta NU di mana pun berada.
1. NU dan Tradisi Menyelesaikan Masalah Tanpa Geger
Salah satu kekuatan NU selama hampir satu abad adalah kebiasaan memelihara marwah dalam menghadapi perbedaan internal. Kiai-kiai sepuh, para musyawirin, dan para pengurus dari generasi ke generasi selalu membawa nilai tawadhu', tasamuh, dan tatsabbut—yakni kehati-hatian dalam menyimpulkan masalah.
Dalam sejarah panjang NU, dinamika kepemimpinan bukanlah hal baru. Bahkan pada masa Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, terjadi perdebatan pemikiran, perbedaan strategi, hingga silang perspektif antar ulama besar. Namun semuanya terselesaikan melalui ruang-ruang tertutup yang penuh adab, bukan dengan hiruk-pikuk publik. Oleh karena itu, ketika pernyataan Gus Yahya viral dan menimbulkan kehebohan, sesungguhnya yang menjadi kegelisahan bukan hanya isi pernyataannya, tetapi juga fakta bahwa isu internal NU telah memasuki arena konsumsi publik.
Padahal sejak dulu, para kiai selalu mengingatkan:
"Masalah keluarga jangan dibesarkan di halaman rumah."
NU adalah keluarga besar—sangat besar. Ketika ada gesekan, biasanya diselesaikan di serambi, bukan di pasar terbuka. Namun tradisi ini kini diuji oleh arus media sosial, kecepatan informasi, dan budaya komentar instan yang membuat segala sesuatu terasa mendesak dan dramatis. Di dunia digital hari ini, sebuah kalimat bisa berubah menjadi bola salju dalam hitungan menit. Dan itu terjadi juga pada pernyataan "tidak akan mundur" yang menjadi topik hangat beberapa hari belakangan.
2. Gus Yahya dan Beban Kepemimpinan di Era Media yang Bising
Gus Yahya adalah seorang kiai, intelektual, dan tokoh publik yang hidup pada masa yang sangat berbeda dibanding para pendahulunya. Dahulu, pernyataan seorang ketua umum hanya beredar melalui surat kabar yang peredarannya terbatas, atau melalui pengajian yang hanya didengar mereka yang hadir. Hari ini, sebuah kalimat dapat melompat ke jutaan layar dalam bentuk potongan video, caption pendek, atau komentar yang ditarik keluar dari konteksnya.
Tidak mudah memimpin ormas dengan 100 juta lebih pengikut di era media sosial.Satu kalimat bisa dianalisis ulang menjadi puluhan penafsiran.
Satu ungkapan bisa diartikan sebagai ketegasan oleh sebagian orang dan dianggap sebagai tantangan oleh sebagian lainnya.
Dalam situasi seperti ini, pernyataan Gus Yahya untuk tetap melanjutkan tugasnya mungkin lahir dari pertimbangan sederhana: menjaga stabilitas organisasi, menyelesaikan amanah muktamar, dan menghindari kekosongan kepemimpinan. Sebagian pihak dapat memahaminya sebagai keteguhan. Sebagian lain melihatnya sebagai sikap yang perlu dijelaskan lebih rinci.
Tetapi apa pun tafsirnya, yang perlu kita ingat adalah bahwa pemimpin pun manusia. Mereka menghadapi tekanan, ekspektasi, dan serangan opini yang datang berlapis-lapis. Dan setiap keputusan, bagaimana pun bentuknya, selalu membawa konsekuensi. Jika kita memberikan sedikit ruang empati, kesadaran itu akan membuat kita lebih tenang melihat persoalan ini.
3. Kegaduhan Bukan Musuh, Tapi Sinyal
Kegaduhan dalam tubuh organisasi besar bukanlah hal yang patut ditakuti. Justru ia bisa menjadi alarm bahwa ada hal-hal yang perlu disempurnakan: komunikasi, tata kelola, pemahaman bersama, atau pembagian tugas. Jika dibaca dengan jernih, riuh yang terjadi hari ini bukanlah kehancuran, melainkan panggilan untuk merapikan kembali arah gerak. Persoalan muncul bukan karena NU lemah, tetapi karena NU kuat dan besar—sehingga setiap gesekan terasa lebih nyaring.
Sama seperti kapal besar yang mengeluarkan suara keras ketika mengubah haluan, NU pun akan menimbulkan riak ketika sedang beradaptasi dengan tantangan zaman. Tidak ada kapal raksasa yang bergerak senyap. Yang penting bukan bunyinya, tetapi arah lajunya.
Dalam konteks ini, viralnya pernyataan Gus Yahya tidak perlu dipandang sebagai indikasi bahwa NU sedang pecah. Ia hanya menandakan bahwa NU sedang berbicara dengan suaranya yang besar—dan itu wajar.
4. Umat NU Jangan Sampai Ikut Terbelah
Ini bagian paling penting dari narasi adem ini: warga NU jangan sampai ikut pecah hanya karena perbedaan pandangan elit.
Sejak masa kiai-kiai pendiri, NU berdiri di atas prinsip bahwa persatuan umat harus dijaga lebih tinggi daripada perdebatan kepemimpinan. Para kiai selalu mengajarkan:
"Perbedaan pendapat itu rahmat, tetapi perpecahan itu musibah."
Jika elite berbeda pandangan, biarkan mereka menyelesaikannya dengan adab organisasi yang sudah diatur rapi dalam AD/ART. Tetapi masyarakat bawah, warga nahdliyin, jamaah masjid, santri, penggiat majelis taklim—tidak perlu membawa perbedaan itu ke permusuhan sehari-hari.
Karena sejatinya :
warga NU tetap sholat di masjid yang sama,
tetap tahlilan bersama,
tetap menghadiri haul para masyayikh,
tetap saling kirim doa dan bertegur sapa,
tetap hidup berdampingan dalam cinta para ulama.
Sementara dinamika elite hanyalah fase musyawarah yang akan selesai ketika sudah saatnya selesai.
5. Kembali ke Adab: Cara NU Menyelesaikan Perkara
Ketika suasana memanas, ada satu prinsip emas dalam tradisi ulama NU: al-'adab fauqol 'ilm ( الادب فوق العلم ) adab lebih tinggi dari ilmu.
Perbedaan sekeras apa pun dapat mereda jika dibingkai oleh adab. Adab inilah yang membuat musyawarah menjadi jalan keluar, bukan jalan masuk ke perpecahan. Adab inilah yang membuat kiai-kiai sepuh mampu berjabat tangan meski berbeda pilihan. Adab inilah yang membuat generasi muda NU menyadari bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan suara keras.
Dalam konteks ini, semua pihak—baik pro maupun kontra terhadap sikap Gus Yahya—memiliki ruang untuk berbicara. Namun semuanya perlu dilakukan dalam koridor:
bahasa yang tertata,
niat yang jernih,
dan orientasi pada kemaslahatan.
NU telah melalui masa-masa sulit sebelumnya. Ada saat-saat perubahan kepemimpinan yang penuh perdebatan. Ada fase-fase ketika perbedaan internal begitu tajam. Tetapi setiap kali adab dikedepankan, NU kembali teduh.
6. Ruang Damai: Saatnya Menurunkan Suara
Dalam kondisi riuh, yang diperlukan bukan siapa yang lebih benar, tetapi siapa yang mampu terlebih dahulu menurunkan volume suara. Itulah yang dilakukan para kiai dulu:
ketika satu pihak meninggi, pihak lain merendah; ketika satu pihak bicara keras, pihak lain memberi ruang sejenak; ketika suasana panas, mereka membiarkan angin dingin bekerja dulu.
Maka sangat bijak apabila:
elite NU menahan diri dari komentar-komentar yang membuka ruang salah tafsir,
media tidak membesar-besarkan cuplikan kecil tanpa konteks,
warga NU tidak memecah diri antara yang "pro Gus Yahya" atau "anti Gus Yahya",
dan semua pihak kembali mengingat bahwa organisasi sebesar NU tidak bisa digerakkan oleh emosi sesaat.
Tenanglah, redalah, perlahan-lahan.
Karena badai paling keras pun tidak pernah kekal.
7. NU Lebih Besar dari Satu Kalimat
Penting untuk disadari bahwa NU telah hidup hampir satu abad. Dalam umur sepanjang itu, NU menghadapi :
masa penjajahan,
pergolakan pasca kemerdekaan,
masa demokrasi parlementer,
masa Orde Baru,
masa reformasi,
transformasi digital,
dan perubahan sosial yang tak henti-hentinya.
Jika organisasi sebesar ini pernah melewati masa perang dan masa politik lebih keras dibanding hari ini, sebuah pernyataan viral tentu bukan sesuatu yang dapat menggoyahkannya. NU lebih besar dari satu kalimat. NU lebih kuat dari satu kontroversi. NU lebih tahan banting dari satu momen viral.
Ketegangan hari ini akan menjadi catatan kecil dalam sejarah besar NU. Dan ketika waktu berlalu, kita akan melihat bahwa organisasi ini tetap berjalan, tetap memberikan manfaat untuk bangsa, dan tetap menjadi rumah bagi jutaan umat.
8. Menata Arah ke Depan
Dinamika yang sedang terjadi memberikan pelajaran berharga:
a. Pentingnya komunikasi internal yang lebih halus
Agar perbedaan tidak dengan cepat berpindah ke ranah publik.
b. Pentingnya kehati-hatian elite dalam membuat pernyataan
Karena apa pun yang diucapkan dapat berkembang di luar kontrol.
c. Pentingnya ruang musyawarah tertutup
Agar aspirasi mendalam dapat disampaikan tanpa takut disalahartikan.
d. Pentingnya keadaban publik
Agar warga NU tidak menjadi korban polarisasi.
Ketika pelajaran ini dipahami, NU akan keluar dari situasi ini sebagai organisasi yang lebih matang.
9. Kesimpulan: Mari Teduhkan Hati
Narasi ini ingin mengajak kita semua tanpa memihak, tanpa mengadili untuk melihat persoalan ini dengan bening:
bahwa perbedaan di tubuh NU adalah hal wajar, bahwa pemimpin pun manusia, bahwa marwah organisasi lebih besar dari dinamika sesaat, dan bahwa keteduhan hanya bisa dijaga jika kita ikut menjaga hati.
Sampai hari ini, para kiai sepuh tetap tenang.Ulama tetap mengajar.
Santri tetap mengaji.
Jamaah tetap shalat berjamaah.
Majelis-majelis dzikir tetap berlangsung.Dan NU, seperti biasa, tetap berdiri tegak sebagai rumah besar umat Islam Indonesia.
Pernyataan viral hanyalah riak di permukaan.Sedangkan dasar NU tetap kuat:
khidmah, adab, persatuan, dan kemaslahatan. Semoga Allah menuntun semua pihak, meneduhkan hati para pengurus, menguatkan para kiai, dan menjaga warga NU dari perpecahan. Karena pada akhirnya, yang kita jaga bukan sekadar kursi, bukan sekadar jabatan, tetapi warisan para ulama dan keteduhan umat.
Wallahu yahdi man yasyaa' ila shiraathin mustaqiim.**
Posting Komentar