China ,Anekafakta.com -Crew kapal yang terlantar di perairan Cina meminta bantuan kepada Presiden Prabowo melalui unggahan video,"Kami, awak kapal MV Star Janet yang berjumlah tujuh orang, tiba di Hong Kong untuk pertama kalinya sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Saat kami mengambil alih kapal dari awak sebelumnya, terdapat banyak kekurangan pada kapal, baik dari segi navigasi maupun mesin. Kapal juga mengalami kebocoran di ruang muat. Terdapat empat generator di kapal, namun hanya satu yang beroperasi, dan mesin induknya pun dalam kondisi buruk. Agen kami mengarahkan kami untuk memindahkan lokasi lego jangkar ke luar area Lego Jangkar Guangzhou. Sekitar pukul 01.00 waktu setempat pada tanggal 17 Maret 2026, kami diperintahkan oleh agen untuk bergerak menuju Dangandao, Tiongkok. Kapal kami tiba di Dangandao pada tanggal 11 April 2026 pukul 00.33 waktu setempat. Setelah tiba di Dangandao, kami mengalami masalah pada generator. Satu-satunya generator yang sebelumnya berfungsi akhirnya rusak total. Kami meminta perusahaan untuk memperbaiki semuanya, namun perusahaan hanya mengirimkan mekanik untuk menyalakannya. Setelah mekanik pergi, generator tersebut mati kembali beberapa jam kemudian".
"Masalah utamanya adalah generator tidak diperbaiki dengan benar; mesin hanya dapat bertahan selama beberapa saat atau beberapa jam. Hal ini terjadi berulang kali, sekitar lima kali selama kami berada di Dangandao.
Akibat kegagalan generator, kami berada di lokasi lego jangkar tanpa lampu navigasi, dan kapal kami nyaris tertabrak kapal lain beberapa kali karena minimnya penerangan. Makanan yang kami konsumsi juga tidak layak karena alat pendingin (freezer) tidak berfungsi akibat kegagalan generator tersebut. Karena seringnya terjadi pemadaman listrik di kapal, kami tidak dapat memompa keluar air yang masuk akibat kebocoran di ruang muat ataupun mengisi daya ponsel untuk keperluan komunikasi. Tanpa adanya kejelasan dari pihak perusahaan, kami meminta bantuan kepada Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Guangzhou, Tiongkok, pada tanggal 10 Mei 2026, untuk mengatasi situasi mendesak yang kami alami. Pada tanggal 12 Mei 2026, pihak Konsulat Jenderal, bekerja sama dengan MSA Guangzhou, Tiongkok, mengirimkan kapal penyelamat untuk memberikan perlindungan bagi kami. Pada titik kritis, ketinggian air akibat kebocoran meningkat dan kapal mengalami kemiringan 18 derajat ke arah kiri".
"Kami kemudian dievakuasi oleh kapal penyelamat CRS China dan dibawa ke darat pada malam itu; keesokan harinya, kami kembali ke kapal bersama dua teknisi—didampingi oleh kapal MSA Guangzhou dan kapal CRS China—untuk memompa keluar air yang masuk ke ruang muat. Setelah kondisi kapal stabil dan generator kembali beroperasi, pihak MSA China menginstruksikan kami untuk berpindah ke lokasi yang lebih aman di Guishan, area lego jangkar Guangzhou di depan Bright Water dekat pangkalan MSA Guangzhou, pada pukul 23.47 waktu setempat. Pada tanggal 22 Mei 2026, teknisi melakukan perbaikan generator dan pengelasan pada bagian yang bocor hingga siang hari tanggal 26 Mei 2026. Mereka membawa dua dinamo generator ke darat. Dua hari kemudian, mekanik meninggalkan kapal dengan membawa generator portabel, dan satu-satunya generator yang sebelumnya telah diperbaiki kembali mengalami kerusakan. 2 Juni 2026. Perusahaan mengirimkan sayuran, roti, mi, dan air minum pada tanggal 7 Juni, namun tanpa lauk-pauk. Pada tanggal 14 Juni 2026, persediaan sayuran yang dikirimkan telah habis. Saat ini, awak kapal hanya mengonsumsi mi dan nasi. Persediaan air minum di kapal juga telah habis.
Pada hari , 21 Juni 2026, teknisi datang ke kapal untuk memperbaiki generator lagi. Sejak kami berangkat pada 16 Maret 2026 hingga hari ini, kami belum menerima upah (hampir 5bulan) 4 bulan 25 hari.
Pada saat ini memang kondisi kami aman dan perusahaan juga menjanjikan akan membayarkan gaji dan pemulangan janji itu dari bulan disetiap bulanya terucap tetapi sampai saat ini kami belum menerimanya.
Maka dari itu kami mohon perlindungan dan bantuan dari semua pihak di Indonesia agar bisa membantu kami mendapatkan hak gaji kami dan kami bisa dipulangkan ke Indonesia.Oleh karena itu, kami menyusun dan membuat laporan kejadian ini sejujur dan sebertanggung jawab mungkin.
Captain MV.Star Janet
Budi Prajitno Kastar.
Yud/red
Posting Komentar