Usung Konsep Lost in Harmony  Indonesia Kolaborasi Musik Elektronik dan Tradisi Jawa Dapat Dukungan Kementerian Kebudayaan RI



*BUSAN, KOREA SELATAN, Anekafakta.com-Grup musik asal Surakarta, Auranala, berhasil mencuri perhatian publik internasional dalam ajang Busan Performing Arts Festival 2026 yang digelar pada 18 hingga 20 September 2026 di Busan, Korea Selatan. 

Mengusung konsep pertunjukan bertajuk “Lost in Harmony - Indonesia”, Auranala yang digawangi Dimas Pratama, Nandang Dwi Prasetyo, dan Robertus Grassianus Bagus berkolaborasi dengan seniman tradisi dan modern asal Surakarta, Woro Mustiko.

Penampilan ini menjadi representasi semangat generasi muda dalam memperkenalkan kebudayaan Indonesia melalui pendekatan musik yang modern, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Auranala dikenal dengan eksplorasi musik Electronic Dance Music (EDM) yang dipadukan secara harmonis dengan elemen musik tradisional Jawa.

Kolaborasi bersama Woro Mustiko menjadi kunci dalam pertunjukan tersebut. Perpaduan karakter musik elektronik, keroncong kontemporer, dan vokal tradisi sinden diharapkan mampu menghadirkan pengalaman artistik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada penonton mancanegara.

Kami ingin menunjukkan bahwa budaya Jawa dapat terus hidup dan berkembang melalui berbagai bentuk ekspresi. Musik modern dan tradisi bukan sesuatu yang harus dipertentangkan, tetapi dapat bertemu dan menciptakan karya baru,” ujar perwakilan Auranala.

Dalam festival tersebut, Auranala feat. Woro Mustiko membawakan tujuh repertoar pilihan, yakni _Dhandhaka Soliloquy, Lumaku, Bintang-Bintang, Kangen, Ini Laut Tak Bertepi, Sesat Fikir_, serta _Medley Nusantara_ dan lagu tradisional Korea _Arirang_ sebagai bentuk penghormatan budaya kepada tuan rumah.

Tiga personel Auranala merupakan musisi berprestasi asal Kota Solo. Dimas Pratama adalah penyanyi dan DJ profesional pengusung musik Jawa bergenre keroncong, dangdut, dan pop, pemilik label musik OLart, serta pernah mewakili Kota Surakarta sebagai Focal Point Jejaring Kota Kreatif UNESCO bidang kerajinan dan kesenian rakyat pada tahun 2024 di Braga, Portugal. Rekam jejaknya meliputi Tribute to Living Legend Waljinah, Solo Keroncong Festival 2021 (Live Kompas TV), Tong Tong Fair Netherland 2022, dan Solo Keroncong Festival 2024.

Nandang Dwi Prasetyo adalah gitaris muda di bawah naungan Trees Music Indonesia dengan karya single _Musim_ (2024), _Tanpa Memandang_ (2025), dan _Imajiner_ bersama Tiara Eka Tanamas. Ia dikenal aktif menghidupkan kolaborasi lintas genre, dari mengiringi sinden hingga musik modern.
Robertus Grassianus Bagus adalah musisi, komposer, arranger, dan pemain flute yang berperan penting dalam inovasi keroncong kontemporer. Ia dikenal lewat aransemen crossover yang memadukan orkes keroncong dengan mahakarya klasik Barat seperti _Farandole_ karya Bizet dan _Bohemian Rhapsody_ milik Queen, serta kolaborasinya dengan Sruti Respati dan Orkes Keroncong penghormatan untuk maestro Waldjinah.

Sementara itu, Woro Mustiko (lahir di Semarang, 29 Agustus 2002) adalah seniman multitalenta yang dibesarkan dalam keluarga seni wayang kulit di Surakarta. Ia dikenal sebagai penyanyi keroncong, pesinden, penari, sekaligus dalang. Kiprahnya melesat melalui proyek Di Atas Rata-Rata (DARR) gagasan Erwin dan Gita Gutawa, kolaborator Erwin Gutawa Orchestra, finalis Indonesian Idol musim ke-11 yang viral karena cengkok tradisi, pengisi acara Festival Film Indonesia 2022 di Candi Borobudur, serta dalang yang membawakan lakon wayang berbahasa Inggris pada Gala Dinner Presidensi G20 di Candi Prambanan.

Keikutsertaan Auranala dalam Busan Performing Arts Festival 2026 menjadi momentum penting bagi musisi muda Indonesia untuk memperluas jejaring dan apresiasi seni di tingkat internasional. Partisipasi ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Dana Indonesiana sebagai bagian dari upaya pengembangan ekosistem seni budaya serta promosi karya seni Indonesia ke panggung global.

Melalui tema _“Dari Surakarta menuju Busan, membawa harmoni Indonesia ke panggung dunia,”_ Auranala feat. Woro Mustiko menegaskan bahwa karya berbasis budaya lokal memiliki peluang besar untuk bersaing secara global melalui kreativitas dan inovasi.

Rth
Uploaded Image

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama