SURAKARTA — Sejumlah seniman lintas generasi resmi mengumumkan kesiapan menyelenggarakan Konser Musikalisasi Puisi “Mengolah Daya Hidup: Memperingati 91 Tahun W.S. Rendra” di Pendopo Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta, Senin, 9 November 2026. Pagelaran tersebut menghadirkan murid, sahabat, serta musisi dan budayawan yang pernah bersinggungan dengan perjalanan seni sang penyair yang lahir di Solo pada 7 November 1935.
Kesiapan acara dipastikan dalam jumpa pers di Pendopo TBJT Surakarta, Selasa (27/10/2026). Acara tersebut mempertemukan produser Farchan Asy’ary, Romo Hartono, show director Iwan Burnani Toni, public relations Eddie Karsito, production manager Sruti Respati, pengurus Yayasan Bengawan Solo Gong, serta tim kreatif SOCreative selaku event organizer.
Merawat Pusaka Rasa Rendra
Farchan Asy’ary, produser konser, menyebut karya puitis W.S. Rendra memiliki ritme batin yang musikal. Menurutnya, konser ini menjadi jembatan kultural untuk merawat “pusaka rasa” sang maestro serta memastikan laku hidup dan ketajaman berpikirnya tetap hidup di tengah generasi masa kini.
“Karya puitis Rendra senantiasa menyimpan ritme batin yang musikal. Hadirnya konser ini menjadi jembatan kultural untuk merawat pusaka rasa sang maestro, memastikan laku hidup dan ketajaman berpikirnya tetap hidup di nadi generasi masa kini,” ujar Farchan.
Pagelaran berjudul “Mengolah Daya Hidup” itu akan memadukan rapsodi melodi, pembacaan puisi, gerak tari, dan penjiwaan teater. Penyelenggara menyebut konsep tersebut bertujuan merajut kembali rekam jejak proses kreatif Rendra, agar api panggung dan kritik sosialnya tetap relevan bagi generasi sekarang.
“Mengolah daya hidup melalui spirit W.S. Rendra adalah kesadaran bergetar. Musik dan ritme bukan sekadar hiburan estetis, melainkan instrumen eksistensial untuk merawat fitrah, mengasah kepekaan sosial, serta mengobarkan vitalitas hidup di tengah gempuran zaman,” kata Farchan.
Reaktualisasi Esensi Karya Rendra
Show Director Iwan Burnani Toni menjelaskan bahwa “Mengolah Daya Hidup” merupakan fondasi proses kreatif W.S. Rendra semasa hidupnya. Bagi Rendra, seni dan sastra bukan menara gading yang terasing, melainkan sarana merawat kehidupan, merespons persoalan sosial-politik, dan menjaga kewarasan nurani kemanusiaan.
“Konser ini mereaktualisasikan esensi tersebut. Karya-karya Rendra yang sarat kritik, cinta, dan spiritualitas tidak dibiarkan menjadi artefak masa lalu yang kaku,” ujar Iwan Burnani.
Melalui aransemen musik modern dan kontemporer, penyelenggara berupaya meniupkan kembali “daya hidup” dari bait-bait puisi Rendra. Konsep ini dipandang sebagai bentuk pembuktian bahwa pemikiran Rendra melampaui zaman dan tetap dapat menjadi energi baru bagi generasi hari ini.
Solo sebagai Akar Spiritual
Pemilihan Solo sebagai lokasi konser dinilai memiliki makna simbolis yang mendalam. Iwan Burnani menyebut Solo bukan sekadar kota kelahiran Rendra yang dikenal dengan julukan “Burung Merak”, melainkan akar perjalanan spiritual, budaya, dan estetika awal Willibrodus Surendra Broto.
“Membawa kembali legasinya ke tanah kelahirannya lewat pertunjukan kami pandang sebagai sebuah laku kebudayaan sebuah tindakan untuk menghormati sejarah, merawat akar, dan menjaga agar api kebudayaan Indonesia yang menyala dalam diri Rendra tidak pernah padam,” ujar Iwan Burnani.
Kolaborasi Lintas Generasi
Sisi spektakuler konser, menurut Eddie Karsito selaku bidang humas, terletak pada daftar penampil yang melibatkan seniman lintas generasi. Ia menyebut acara ini sebagai “reuni akbar spiritual” karena menghadirkan murid Rendra, sahabat dekat, hingga musisi legendaris yang pernah bersinggungan dengan napas kesenian sang penyair.
Para penampil yang diumumkan antara lain Iwan Burnani Toni, Sawung Jabo, Suzan Piper, Setiawan Djody, Butet Kartaredjasa, Untung Basuki, Didi Nini Thowok, Dewo, Rere Grass Rock, Grisella, Sri Krishna Encik, Ine Arini Bastaman, Sruti Respati, Fajar Satriadi, D.S. Priyadi, dan Herman Aga.
Konser juga menampilkan M.S. Kaban, H. Wiranto, Eep Saefulloh Fatah, Sandrina Malakiano, Romo Hartono, Farchan Asy’ary, dan Eddie Karsito. Mereka akan didukung ansambel Sirkus Barock, Punden Musik Puisi, dan Merah Putih Band.
“Dukungan musisi lintas arus, penampilan dari rocker legendaris, penyanyi, hingga pelantun etnik menciptakan peleburan genre musik—rock, balada, etnik, dan teater—yang sangat kaya dan megah,” kata Eddie Karsito.
Ia menambahkan, kolaborasi pembacaan puisi antara tokoh publik dan budayawan diharapkan memberi kedalaman makna pada setiap baris puisi yang dideklamasikan.
Daya Hidup dan Kreativitas Merdeka
Penyanyi sekaligus pemeran Sruti Respati menyambut positif keterlibatannya dalam konser tersebut. Selain menjadi pengisi acara, Sruti juga bertindak sebagai production manager. Ia menyebut proyek ini sangat personal karena memiliki kedekatan emosional dan historis dengan Bengkel Teater Rendra.
“Keterlibatan saya dalam produksi legendaris Suluk Hijau bersama Bengkel Teater pada tahun 2007 adalah titik balik penting. Momen itulah yang membentuk karakter artistik dan perjalanan karier kesenian saya hingga saat ini,” ungkap Sruti.
Baginya, mengenang Rendra bukan sekadar merawat ingatan, tetapi juga menjaga daya hidup dan kreativitas agar tetap berakar secara nyata. Ia menegaskan bahwa kreativitas yang merdeka merupakan motor utama bagi pelaku seni untuk tetap relevan, tangguh, dan berdampak di tengah perubahan zaman.
Wadah Pelestarian Seni Budaya
Konser ini juga menjadi bagian dari upaya Yayasan Bengawan Solo Gong, yang didirikan di Sukaharjo, Jawa Tengah, pada 29 September 2026. Yayasan tersebut dibentuk oleh sejumlah seniman dan budayawan, antara lain Farchan Asy’ary, Romo Hartono, Iwan Burnani Toni, Sawung Jabo, Heny Purwaningsih, Supriyadi, Suharto, dan Setya Kusumaningrum.
Yayasan Bengawan Solo Gong berupaya menyediakan wadah legal, profesional, dan berkelanjutan untuk menghimpun potensi seniman, budayawan, akademisi, serta pencinta seni. Lembaga ini diharapkan menjadi episentrum pelestarian dan inovasi seni budaya Nusantara yang adaptif dan mendunia, sekaligus mengalirkan nilai-nilai kemanusiaan laksana Bengawan Solo melalui resonansi harmoni gong yang mempersatukan bangsa.
Dengan mengusung tema “Mengolah Daya Hidup”, konser ini diharapkan tidak hanya menjadi peringatan 91 tahun W.S. Rendra, tetapi juga ruang refleksi kolektif mengenai peran seni dalam menjaga nurani, kepekaan sosial, dan vitalitas kehidupan bangsa.
Rth
Posting Komentar