Solo ,Anekafakta.com— Mangkunegaran akan memunculkan rangkaian Dhaup Ageng melalui Kirab Pengantin dan Pahargyan pada Sabtu, 7 November 2026. Kirab yang dijadwalkan dimulai sekitar pukul 16.00 WIB tersebut menjadi momen kedua mempelai menyapa masyarakat setelah menjalani serangkaian prosesi pernikahan adat Mangkunegaran.
Dhaup Ageng merupakan upacara pernikahan agung G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dengan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian, yang berlangsung pada 3–7 November 2026 di lingkungan Pura Mangkunegaran Surakarta.
Kirab Pengantin, Perjumpaan dengan Masyarakat
Kirab Pengantin bukan sekadar iring-iringan perayaan. Dalam tradisi Mangkunegaran, prosesi ini menghubungkan hajat keluarga dengan masyarakat sekitar, sekaligus membuka ruang bagi warga untuk menyambut serta menyampaikan pangestu bagi kedua mempelai.
Kedua mempelai akan berarak dalam iring-iringan yang dihidupkan oleh barisan bregada serta unsur seni Mangkunegaran. Susunan arak-arakan, busana, musik, dan tata laku yang menyertainya merupakan warisan budaya yang dijaga serta diteruskan lintas generasi.
Pada prosesi Panggih, kedua mempelai mengenakan Dodot Ageng Bangon Tulak. Sementara itu, busana Kasatriyan akan dikenakan dalam Kirab Pengantin dan Pahargyan pada 7 November. Tari klasik gaya Mangkunegaran dan alunan gamelan turut mengiringi sejumlah rangkaian, menegaskan perpaduan antara kesakralan, estetika, dan identitas budaya.
Informasi Final
Mengenai rute kirab dan pengaturan lalu lintas akan diumumkan melalui kanal resmi Mangkunegaran serta pihak berwenang. Masyarakat dipersilakan menyambut kirab di sepanjang rute yang telah ditentukan dengan tetap mengikuti arahan petugas demi menjaga ketertiban, keamanan, dan kekhidmatan prosesi.
Mangayubagyo, Ruang Berbagi Kebahagiaan
Sebagai ungkapan syukur.
Mangkunegaran menyelenggarakan Mangayubagyo Dhaup Ageng pada 6–8 November 2026 di Pamedan Pura Mangkunegaran. Bertema Srawung Kabagyan atau perjumpaan untuk berbagi kebahagiaan, kegiatan ini mengusung semangat Sumambung ing Rasa, Nyawiji ing Pangestu.
Masyarakat diajak turut berbahagia, menyampaikan ucapan selamat, doa, dan pangestu bagi perjalanan baru kedua mempelai. Salah satu wujud kebersamaan tersebut adalah Segahan Pahargyan Dhaup Ageng, yaitu jamuan yang dibagikan kepada masyarakat dari lima kecamatan di Surakarta serta sejumlah yayasan sosial, termasuk panti asuhan dan panti wreda.
Jamuan tersebut disiapkan bagi sekitar 2.000 orang setiap hari dan melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. Di balik sajian yang dibagikan, terdapat makna keramahan, rasa syukur keluarga, serta hubungan yang telah lama terjalin antara Mangkunegaran dan masyarakat Solo.
Seni dan Budaya Menghidupkan Tradisi
Mangayubagyo juga dimeriahkan beragam sajian seni dan budaya. Antara lain, persembahan dari lima kabupaten yang memiliki keterhubungan sejarah dan budaya dengan Mangkunegaran, tarian Langenpraja, pagelaran wayang kulit dalam rangka Hari Wayang Nasional, serta persembahan seni Eko Peci dan tim.
Kehadiran para seniman, perajin, abdi dalem, dan pelaku budaya memperlihatkan bahwa Dhaup Ageng bukan hanya perayaan keluarga besar istana. Ia merupakan ruang kolaborasi yang menegaskan bahwa tradisi tetap hidup melalui karya, keterlibatan masyarakat, dan penghargaan terhadap nilai yang diwariskan.
Masyarakat juga dapat menyampaikan doa dan harapan melalui Buku Pangestu, Pohon Pangestu, dan Suwanten Pangestu. Seluruh pesan akan dihimpun dan disampaikan kepada kedua mempelai sebagai titipan pangestu bagi kehidupan rumah tangga mereka.
“Mangayubagyo menjadi ruang perjumpaan keluarga dan masyarakat dalam rasa syukur dan kebahagiaan. Setiap jamuan yang dibagikan, kebersamaan yang terjalin, serta pangestu yang disampaikan menjadi bagian dari doa yang mengiringi perjalanan baru kedua mempelai,” ujar Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti.
“Kirab Pengantin dan Pahargyan merupakan wujud kedekatan Dhaup Ageng dengan masyarakat. Kami berharap masyarakat dapat menyaksikan serta menyambut prosesi ini dengan khidmat, tertib, dan penuh rasa syukur,” ujar Juru Bicara Dhaup Ageng Mangkunegaran, K.P.H. Drs. Tjuk Susilo, MPA.
Ketua Umum Dhaup Ageng, Sherly Karina, menambahkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan disiapkan sebagai ruang kebersamaan bagi keluarga, abdi dalem, pelaku budaya, dan masyarakat luas dalam menyambut serta mendoakan perjalanan baru kedua mempelai.
Dengan Kirab Pengantin, Pahargyan, dan Mangayubagyo, Dhaup Ageng Mangkunegaran hadir bukan hanya sebagai upacara pernikahan agung, melainkan juga sebagai perayaan budaya yang menghubungkan keluarga, masyarakat, dan warisan leluhur dalam satu rangkaian doa serta kebersamaan.
Rth
Posting Komentar