Diduga Salah Penanganan di Puskesmas Cilodong, Bocah 11 Tahun Alami Luka Berkepanjangan dan Trauma



Depok, Anekafakta.com— Harapan seorang ibu untuk kesembuhan anaknya justru berubah menjadi mimpi buruk panjang. ZN (11), bocah warga Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, hingga kini masih menanggung dampak luka serius yang diduga akibat penanganan medis tidak profesional di Puskesmas Cilodong.

Kasus ini bermula awal Agustus 2025. Saat itu, ZN hanya mengeluhkan rasa gatal di paha kiri. Sang ibu kemudian membawa ZN berobat ke Puskesmas Cilodong yang beralamat di Perumahan Grand Depok City (GDC), Jalan Boulevard GDC, Jatimulya, Cilodong.

Namun alih-alih membaik, kondisi ZN justru semakin parah.

"Awalnya cuma gatal biasa. Tapi lama-lama muncul luka memanjang seperti kelokan cacing," tutur ibu ZN kepada awak media, dengan suara bergetar.

Tiga Kali Berobat, Kondisi Justru Memburuk

ZN tercatat sudah tiga kali menjalani pengobatan di puskesmas tersebut. Ia diberikan berbagai obat, mulai dari obat gatal hingga obat cacing. Namun hasilnya nihil. Luka tidak kunjung sembuh, bahkan semakin meradang.

Belakangan, keluarga mendapatkan hasil diagnosis dari dokter UT (salah satu dokter Puskesmas yang menangani ZN ( UT ). Beliau menyebut ZN menderita penyakit  cacing kulit (cutaneous larva migrans).

Yang mengejutkan, menurut pengakuan ibu ZN, pihak puskesmas justru melakukan penyemprotan cairan langsung ke area luka.

"Saat disemprot itu, anak saya langsung menjerit. Katanya perih, panas, seperti terbakar," ungkap sang ibu.

Cairan yang disemprotkan tersebut diduga sejenis etil klorida, zat yang umumnya digunakan sebagai anestesi semprot atau pendingin lokal.

Tidak Ada Opsi Lain, Kata Dokter

Pada 28 Agustus 2025, ZN kembali dibawa ke Puskesmas Cilodong. Kali ini ia didampingi kakaknya dan bertemu kembali dengan dokter yang sama, yang disebut keluarga adalah dokter berinisial UT.

"Kakaknya bertanya langsung, 'Dok, apa tidak ada opsi lain selain disemprot?' Tapi dokter menjawab, tidak ada," ujar ibu ZN menirukan percakapan tersebut.

Dokter tersebut juga menyebut bahwa tindakan penyemprotan dilakukan oleh perawat. Namun hingga kini, keluarga mengaku tidak pernah mendapat kejelasan siapa perawat yang melakukan tindakan tersebut.

"Nama perawatnya saya tidak tahu. Tapi dokternya masih aktif sampai sekarang," kata ibu ZN.

Luka Berubah, Trauma Mendalam

Alih-alih sembuh, kondisi ZN kini semakin memprihatinkan. Di bekas luka justru tumbuh jaringan daging abnormal, yang menimbulkan rasa sakit sekaligus dampak psikologis mendalam.

"Anak kami jadi trauma. Takut berobat, takut disentuh. Seolah-olah dia dijadikan percobaan," tegas ibu ZN.

Keluarga menilai tindakan tersebut sebagai dugaan malpraktik medis dan mendesak adanya pertanggungjawaban dari dokter serta pihak puskesmas.

"Kami hanya ingin keadilan. Ini anak kecil, bukan bahan uji coba," ujarnya dengan nada emosional.

Sorotan pada Profesionalisme Tenaga Medis

Kasus ini memunculkan pertanyaan serius mengenai standar pelayanan medis di fasilitas kesehatan tingkat pertama, khususnya terkait penanganan penyakit kulit pada anak.

Keluarga berharap Dinas Kesehatan Kota Depok, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), serta pihak terkait lainnya turun tangan melakukan investigasi menyeluruh, demi memastikan kejadian serupa tidak terulang pada pasien lain.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Puskesmas Cilodong maupun dokter yang bersangkutan terkait tudingan tersebut.

Yudha/red

Post a Comment

أحدث أقدم