Jangan Sekali Kali Melupakan Sejarah, Siapakah Dalang G30/S
Tangerang,anekafakta.com
Membaca Soekarno Lebih dari separuh abad berlalu, ratusan buku ditulis, sejumlah simposium digelar; orang masih saja bertanya, "Siapakah dalang Gerakan 30 September?"
Wacana tentang dalang di balik terbunuhnya enam jenderal dan seorang perwira menengah semakin gencar pasca-Orde Baru. Meskipun begitu, diskursus ini sering kali berujung pada debat kontra-produktif. Subjektivitas (berupa kepentingan dan lainnya) rupanya masih mendasari argumen sejumlah besar orang untuk menentukan pandangan mereka. Sejauh ini, narasi Orde Baru bahwa PKI merupakan dalang tunggal masih langgeng di tengah masyarakat.
Narasi tersebut tetap diakui sebagai versi resmi pemerintah. Ben Anderson (Cornell Paper, 1966) pagi-pagi sudah menolak anggapan ini.
Lebih lanjut Ben menulis bahwa peristiwa tersebut merupakan konflik internal Angkatan Darat, yang dimanfaatkan Soeharto untuk merebut tampuk kekuasaan secara bertahap (=kudeta merangkak).
Antonie Dake (Soekarno File, 2004) beranggapan lain. Menurutnya, tak lain dari Sukarno yang pertama kali mencetuskan gerakan. Tujuannya untuk menyingkirkan sejumlah tentara anti-komunis dalam Angkatan Darat. Sebagian orang menganggap angin pendapat ini, meski bantahan juga tak kalah banyaknya. John Roosa (Dalih Pembunuhan Massal, 2008) menulis bahwa "klaim ini tidak berdasar dan absurd.
Sulit dipercaya bahwa dalang di balik G-30-S merupakan aktor tunggal. Dalam "Pelengkap Nawaksara", pidato terakhirnya sebagai presiden pada 10 Januari 1967, Bung Karno menyatakan, "Penyelidikanku yang saksama menunjukkan bahwa peristiwa G-30-S itu ditimbulkan oleh 'pertemuannya' tiga sebab, yaitu kekeblingeran pimpinan PKI, kelihaian subversi Nekolim, dan memang adanya oknum-oknum yang 'tidak benar'".
Jika demikian, persoalan tentang siapa yang patut ditunjuk hidungnya rasanya tidak terlalu relevan. Siapa pun dalangnya, ia tidak serta-merta membuat sejumlah besar orang dibenarkan mengalami genosida. Sebab, lebih penting dari sekadar dalang adalah orang-orang tak bersalah (tertuduh komunis, tentara, santri): mereka yang terpaksa menanggung derita atas kesalahan yang tak pernah mereka perbuat.
(Heddot/Red)
إرسال تعليق