Rumah Magot RW 16 Cimpaeun, Inovasi Warga Tapos Menuju Lingkungan Bersih dan Mandiri
Di tengah tantangan pengelolaan sampah di wilayah perkotaan, warga RW 16 Kiray, Kelurahan Cimpaeun, Kecamatan Tapos, Kota Depok, menghadirkan solusi inspiratif melalui Rumah Magot BSF. Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam mewujudkan lingkungan bersih, sehat, dan berdaya guna. Dengan semangat gotong royong dan kepedulian tinggi terhadap alam, warga memanfaatkan magot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF) sebagai pengurai sampah organik sekaligus sumber ekonomi baru.
Subandi, Ketua RW 16 Cimpaeun, menjelaskan bahwa budidaya magot merupakan strategi cerdas dan berkelanjutan untuk mengatasi persoalan sampah rumah tangga. "Komunitas budidaya magot bisa menjadi solusi jangka panjang dalam mengurangi timbunan sampah. Selain ramah lingkungan, hasilnya juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak," ujarnya. Inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari Lurah Cimpaeun, Mujahidin, serta Camat Tapos, Jarkasih, yang menyebut program ini sejalan dengan visi Walikota Depok, DR. H. Supian Suri, M.M.
Walikota Depok dalam kesempatan terpisah menyampaikan harapannya agar metode pengelolaan sampah berbasis magot dapat diterapkan secara masif di seluruh RW Kota Depok. "Salah satu upaya kita dalam penyelesaian sampah adalah dengan budidaya magot. Kami juga telah menyiapkan alokasi anggaran bagi setiap RW untuk mendukung gerakan ini pada tahun 2026," tutur beliau penuh semangat.
Tak berhenti di situ, RW 16 bersama LPM Cimpaeun, lurah, dan camat juga memanfaatkan lahan di sekitar Rumah Magot untuk mendukung program ketahanan pangan, dengan menanam cabai, jagung, serta membudidayakan ikan lele. Inovasi ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi warga. Dari Cimpaeun, semangat perubahan itu tumbuh — menuju Depok yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan.
Yudha/Red

إرسال تعليق