Solo , Anekafakta.com
Dari artefak Mesir Kuno berusia 4.000 tahun di makam Tutankhamun hingga panggung kolosal modern, kipas tangan (hand fan) telah menjadi inspirasi lintas zaman. Bukan kipas listrik, melainkan kipas lipat (sensu) dari Jepang abad ke-8 yang menyebar ke Tiongkok, Eropa, dan Indonesia—seperti Tari Kipas Serumpun (Sumsel), Tari Kembang Kipas (Betawi), Tari Pakarena (Sulsel), serta Tari Legong (Bali).
Solo Menari 2026 mengangkat tema Aku Kipas (Sanskerta: Aha Pankha), menjadikan kipas sebagai simbol berbagi manfaat kehidupan. Acara ini menggerakkan ekonomi kreatif, diplomasi budaya, dan inklusivitas, melibatkan 1.550 penari dari 12 kota (Solo, Yogya, Semarang, hingga Dompu NTB), termasuk 65 penyandang disabilitas dari FORKESI Surakarta.
Rangkaian Acara Utama:
Sarasehan & Workshop Sanggul Nusantara: Dipandu Duta Sanggul Solo 2024, 100 remaja putri belajar penataan Sanggul Ukel Konde Solo. Ruang merawat identitas perempuan Nusantara, seperti ditegaskan Ketua Pencinta Sanggul Nusantara, Ninoek W. Sunaryo.
Sarasehan Tari “Tari Kolosal sebagai Ekosistem Ekonomi Kreatif & Diplomasi Budaya Kota”: Narasumber top seperti Heru Mataya (Mataya Arts), Hermansyah Siregar (Dirjen KI Kemkumham), Dr. Dadam Mahdar (Kemenekraf), Dr. Heri Priyatmoko, Agustina Rochyanti (ASETI), dan Prof. Nanik Sri Prihatini. Bedah peran tari kolosal menggerakkan kota.
Workshop Tari Kipas Chandrabaga: Wahyuni Hazierda Dauly (ASETI Bekasi) ajarkan teknik gerak patriotik, ubah kipas jadi simbol keberanian.
Pengukuhan ASETI Surakarta: Seruan bersatu bagi seniman tari, bangun jejaring untuk ekonomi kreatif dan kebijakan publik.
Pameran “Kipas Melintas Waktu”: 32 artefak kipas ungkap sejarah dari dapur hingga kebangsawanan Nusantara.
Workshop Membuat Kipas Kreatif (Arief Tuep) & Melukis Kipas Kreatif (Dani Iswara): Eksplorasi kriya dari benda sederhana jadi karya bernilai.
Pasar Festival (kriya, fesyen, kuliner): Gerakkan ekonomi lewat multiplier effect.
Panggung Menari: 69 karya dari sanggar lintas kota, ruang dialog keberagaman.
Tari Kolosal “Aku Kipas”: Puncak dengan 1.550 penari, simbol keselarasan keberagaman.
Pembacaan Manifesto Hari Tari Indonesia (HATI) 27 Juli: Ajakan ASETI & tokoh seperti Suryandoro Swargaloka, Sal Murgiyanto cs. untuk pengakuan nasional tari.
Solo Menari bukan sekadar festival, tapi gerakan budaya yang mengakar, didukung pengakuan UNESCO Craft and Folk Art Solo (2023). Ia rajut jejaring nasional, hidupkan ekonomi kreatif, dan teguhkan Solo sebagai simpul peradaban tari.
Tentang Solo Menari: Digelar sejak 2008, inisiatif kota Solo rayakan Hari Tari Dunia dengan tari kolosal ikonik.
Rth/Red
Posting Komentar