Sragen,Anekafakta.com– Kawasan Cagar Budaya Sangiran kembali menjadi pusat pembelajaran dunia melalui pelaksanaan International Participatory School: Sangiran International Youth Forum with Human Origin Heritage (SIYF–HOH) 2026. Acara ini yang sedang berlangsung aktif melibatkan puluhan peserta dari berbagai negara dalam kegiatan pelestarian warisan budaya berbasis keterlibatan masyarakat.
Program Human Origin Heritage (HOH), inisiatif tahunan global yang kini memasuki edisi ke-9 sejak 2018, digawangi oleh Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) bekerja sama dengan Muséum National d’Histoire Naturelle (MNHN) Paris. Kolaborasi ini fokus pada pemahaman dan pengelolaan situs asal-usul manusia di seluruh dunia melalui pendekatan akademik dan lapangan. Sejak 2024, Sangiran International Youth Forum (SIYF) ikut bergabung mewakili pemuda lokal, menjadikan edisi 2026 sebagai kerjasama ketiga yang semakin menguatkan ikatan antara upaya internasional dan inisiatif komunitas setempat.
Total 50 peserta hadir, termasuk mahasiswa Indonesia dan asing, akademisi, serta fasilitator. Sebanyak 16 di antaranya dari 12 negara seperti Prancis, Amerika Serikat, Maroko, Argentina, Lithuania, Brasil, Angola, Meksiko, Aljazair, Gambia, dan Myanmar, yang berasal dari institusi ternama seperti MNHN Paris, Università degli Studi di Ferrara, Instituto de Pesquisas Tecnológicas, serta Universitat Rovira i Virgili. Sisanya, 15 orang dari SIYF dan 19 mahasiswa lokal dari universitas seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, Universitas Sebelas Maret, Universitas Tunas Pembangunan Surakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta, STMIK AMIKOM Surakarta, dan Universitas Negeri Semarang. Keragaman ini menghadirkan sudut pandang segar dalam pengelolaan warisan budaya.
Pembelajaran Hands-On di Lapangan
Mengadopsi model participatory school, program ini prioritaskan pengalaman langsung (experiential learning). Peserta tidak sekadar belajar teori, tapi terjun ke masyarakat dan alam Sangiran. UKSW Salatiga berfungsi sebagai mitra akademik utama, sementara SIYF menjembatani pertemuan dengan warga lokal. Mereka dibagi ke kelompok tematik yang menangani topik krusial seperti perubahan lahan, perlindungan situs geologi, pandangan publik global, program komunitas, dan cerita evolusi manusia. Fasilitator dari Museum dan Cagar Budaya (MCB) Sangiran, dosen ahli, serta peneliti arkeometri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional memberikan bimbingan berlapis, sehingga lahir rekomendasi yang tepat sasaran dan berbasis sains.
Kegiatan Intensif dan Klimaks Publik
Peserta tiba di Sangiran sejak 30 April 2026 dan langsung terlibat dalam aktivitas lapangan bersama kelompok sadar wisata (pokdarwis), yang berperan sebagai pemandu museum dan pelaku pelestarian. Interaksi ini menyatukan pengetahuan tradisional dengan wawasan ilmiah global, menghasilkan proyek edukasi yang relevan dan memperkuat nilai universal Sangiran sebagai Warisan Dunia.
Puncak acara hari ini, 7 Mei 2026, menampilkan sesi berbagi pengalaman, talkshow bertema “30 Tahun Sangiran sebagai Warisan Dunia: Dari Pengakuan Internasional Menuju Ketahanan Berkelanjutan”, dengan pembicara dari akademisi, pemerintah, dan pelaku lapangan. Kegiatan juga libatkan pelajar serta warga luas, ditambah Night at the Museum (NAM) – pengalaman eksploratif berbasis permainan di museum untuk pembelajaran yang menyenangkan dan kolaboratif.
SIYF–HOH 2026 bukan hanya wadah diskusi, melainkan laboratorium nyata bagi pemuda global dalam pelestarian budaya. Kolaborasi ini diharapkan mencetak generasi sadar, empati, dan bertanggung jawab atas warisan seperti Sangiran, yang menyimpan jejak evolusi manusia lebih dari satu juta tahun. Sangiran pun terus menjadi jembatan masa lalu, kini, dan depan dalam pembelajaran internasional.
Rth
إرسال تعليق