Jakarta,Anekafakta.com-Secara umum pengalaman saya dalam mengikuti kegiatan komunitas hari ini mengajarkan bahwa budaya Betawi harus dilestarikan bersama-sama tidak hanya tanggung jawab individu tertentu tapi semua masyarakat Indonesia.
Demikian pernyataan Tricia bersama tim mahasiswi Magister Psikologi Universitas
Atmajaya Jakarta pada Jum'at, 12 Juni 2026 disela kunjungannya di Kampung Budaya Pencak Silat Beksi Jalan Ciledug Raya No. 46 RT. 006/004 Kel. Petukangan Utara Kec. Pesanggrahan Kota Adm Jakarta Selatan.
Dijelaskannya bahwa kehadiran komunitas seni juga tidak hanya sekedar melestarikan budaya,"Akan tetapi juga ikut berkontribusi dalam membina generasi muda, memberi pengajaran (seperti dakwah) dan edukasi," jelasnya.
Senada dengan itu, Abdul Aziz selaku pegiat Kampung Budaya Pencak Silat Beksi sekaligus Pengajar Utama Bahasa Daerah Betawi menegaskan bahwa asal-usul seni budaya Betawi merupakan bagian dari peradaban, khususnya ondel-ondel Betawi yang memiliki kemiripan dengan barongan di Bali dan bebegig di Banten. Nama "ondel-ondel" sendiri berasal dari gerakan tangannya yang disebut "ngondel-ngondel" .
"Sedangkan filosofi warna dan bentuk berdasarkan aturan daerah (Perda), ondel-ondel laki-laki memiliki wajah merah yang melambangkan keberanian, sedangkan ondel-ondel perempuan memiliki wajah putih yang melambangkan kesucian," tegasnya.
Menurut Raindbown sebagai Pemuda Pelopor DKI Jakarta bidang seni budaya tahun 2026, sekaligus pimpinan Sanggar Seni Si Jantuk bahwa struktur tubuh ondel-ondel dirancang mengikuti lekukan tubuh manusia yang ideal dan tidak lurus seperti pohon kelapa.
"Kesenian ondel-ondel dianggap lahir dari lingkungan kerajaan, yang melambangkan bahwa seni harus berasal dari pikiran dan karya kreatif, bukan sekadar untuk mencari makan atau keuntungan materi semata," tegasnya.
Disamping itu, Muhammad Asril Ilham salah satu siswa SMP Putra Satria mengatakan bahwa saat ini, terdapat tantangan dalam melestarikan ondel-ondel, terutama terkait fenomena pengamen jalanan. Namun sebaiknya para pengamen dapat diarahkan dengan bentuk pengajaran (misalnya dakwah) dan membantu memberi solusi lain.
"Untuk pemenuhan kehidupan mereka supaya tidak lagi menggunakan ondel-ondel sebagai alat mengamen melainkan sebagai hiburan dan pertunjukan," tandasnya.
Selanjutnya, Muhamad Hafiz pimpinan Sanggar Seni Majelis Seni Budaya Indonesia menambahkan bahwa Pelaku seni selayaknya merawat kostum mereka,"Dan mengubah konsep "ngamen" menjadi pertunjukan hiburan yang lebih bermartabat," pungkasnya.
(ziz)
Posting Komentar