Jakarta,Anekafakta.com-Tari Sirih Kuning adalah tarian tradisional khas Betawi yang merupakan hasil perpaduan budaya Betawi dan Tionghoa. Tarian ini bermakna sebagai simbol kegembiraan, penghormatan, dan rasa syukur, serta sering dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan, acara pergaulan muda-mudi, hingga prosesi sakral pernikahan adat Betawi.
Demikian pernyataan Kezia Inadia Ayuputri salah satu perwakilan penari sanggar binaan Suku Dinas Kebudayaan Kota Adm Jakarta Selatan pada Rabu, 03 Juni 2026 disela penampilannya dalam rangka turutserta memeriahkan Poesat Fest 4 di Sekolah Putra Satria Petukangan Utara Pesanggrahan Jakarta Selatan.
Turut hadir Ibu Yuli (Pengawas SMP Jakarta Selatan), Ahmad Hasan Husaini (Lurah Petukangan Utara), Hj. Desi (Ketua Yayasan Pendidikan Putra Satria), H. Naupal Haryawan (Dewan Pendidikan Jaksel), Johan Wahyudi (Kepala Sekolah SMP Putra Satria).
Dijelaskannya bahwa tarian ini merupakan pengembangan dari Tari Cokek, sebuah tari pergaulan populer masyarakat Tionghoa Betawi pada abad ke-19.
Seiring waktu, gerakan Tari Cokek dikemas ulang agar terlihat lebih sopan, luwes, dan diiringi dengan alunan musik yang lebih ceria.
"Tarian ini terdiri dari sekitar sembilan (9) ragam gerak dasar yang berpusat pada keluwesan tangan, pinggul, dan gerakan kaki yang sedikit berjinjit (seperti langkah ngiwir, goyang ngetek, dan koma puter)," jelasnya.
Ditegaskannya bahwa tarian ini diiringi oleh alunan alat musik tradisional Gambang Kromong yang dipadukan dengan nyanyian lagu "Sirih Kuning". Awalnya, tarian ini ditarikan secara berpasangan pria dan wanita.
"Namun saat ini, Tari Sirih Kuning lebih sering dibawakan secara berkelompok oleh para penari wanita. Dalam prosesi pernikahan adat Betawi, tarian ini sering ditampilkan saat mempelai pria menyerahkan sirih dare (sirih yang dihias) kepada pengantin wanita sebagai ajakan untuk duduk bersanding," tegasnya.
(ziz)
إرسال تعليق