Penelitian Palang Pintu Betawi Dorong Pelestarian Tradisi Lisan melalui Buku Kumpulan Naskah



JAKARTA, Anekafakta.com— Tradisi Palang Pintu Betawi menjadi perhatian dalam sebuah penelitian dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta yang dilaksanakan pada April–Agustus 2026 di sejumlah wilayah Jabodetabek. Penelitian ini mengangkat palang pintu sebagai bagian penting dari tradisi lisan dan ekspresi budaya masyarakat Betawi. Dalam palang pintu, terkandung pantun, dialog, humor, pertunjukan silat, musik, dan lantunan sikke. Kegiatan penelitian dilakukan untuk mendokumentasikan dan mengkaji keberadaan naskah palang pintu yang berkembang di tengah masyarakat sekaligus melihat keberlanjutan tradisi tersebut dalam kehidupan masyarakat Betawi dan Jakarta masa kini.

Palang pintu dikenal sebagai tradisi yang menghadirkan proses penyambutan melalui komunikasi antara pihak yang datang dan pihak yang menerima. Dalam praktiknya, tradisi ini memadukan berbalas pantun dengan dialog, humor, dan adu silat, dan unsur budaya lainnya sebagai bagian dari prosesi. Data Warisan Budaya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat Palang Pintu sebagai karya budaya Provinsi DKI Jakarta melalui SK No. 186/M/2015. Lebih lanjut, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta menjelaskan bahwa dalam konteks perkawinan Betawi, palang pintu berkaitan dengan penyambutan pihak pengantin pria melalui pencak silat dan berbalas pantun.

Penelitian yang dilakukan di kawasan Jabodetabek tersebut tidak hanya melihat palang pintu sebagai sebuah pertunjukan, tetapi juga menempatkan pantun sebagai unsur sastra lisan yang penting untuk dikaji dan didokumentasikan. Pantun dalam palang pintu tidak semata-mata berfungsi sebagai hiburan, tetapi dapat menyampaikan penghormatan, nasihat, nilai agama, etika, humor, serta identitas budaya masyarakat Betawi. Karena penyampaiannya berlangsung secara lisan dan dalam berbagai konteks pertunjukan, naskah atau teks yang digunakan memiliki kemungkinan mengalami perubahan sesuai dengan pelaku, tempat, acara, dan perkembangan zaman.

Tim penelitian terdiri atas Dr. Gres Grasia Azmin, S.S., M.Si. sebagai ketua, dengan anggota peneliti Dr. Siti Gomo Attas, S.S., M.Hum., Ardia Septi Wijianti, S.Hum., M.A., dan Eky Kusuma Hapsari, M.Hum. Penelitian juga melibatkan mahasiswa peneliti Anis Nabilah Romadona dan Nilam Shalinda Putri. Keterlibatan peneliti dan mahasiswa diharapkan dapat mempertemukan kajian akademik dengan praktik kebudayaan yang hidup di masyarakat, sekaligus mendorong generasi muda untuk mengenal, mendokumentasikan, dan mengembangkan warisan budaya Betawi.

Pemilihan wilayah Jabodetabek sebagai ruang penelitian didasarkan pada kenyataan bahwa tradisi Betawi tidak berhenti pada batas administratif Jakarta. Perkembangan masyarakat dan mobilitas warga membuat praktik budaya Betawi hadir dalam ruang sosial yang lebih luas. Pada 2026, pemerintah daerah juga terus memberikan ruang bagi berbagai ekspresi budaya Betawi. Lebaran Betawi 2026, misalnya, menghadirkan beragam seni dan tradisi Betawi sebagai bagian dari upaya pelestarian identitas budaya Jakarta. Berbagai kegiatan budaya di Jakarta juga masih menampilkan palang pintu yang mengandung silat, pantun, sikke, dan bentuk ekspresi Betawi lainnya. Luaran utama penelitian ini adalah Buku Kumpulan Naskah Palang Pintu Betawi. 

Ketua peneliti, Gres Grasia Azmin menyatakan “Buku tersebut diharapkan menjadi dokumentasi tertulis yang dapat membantu menjaga keberadaan palang pintu sekaligus menjadi bahan rujukan bagi masyarakat, pelaku seni, komunitas budaya, pendidik, mahasiswa, dan peneliti. Lebih jauh, pendokumentasian ini menjadikan palang pintu sebagai tradisi yang  dapat dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan secara berkelanjutan. Melalui penelitian dan penerbitan buku tersebut, palang pintu diharapkan terus hidup sebagai bagian dari identitas, kreativitas, dan kekayaan budaya masyarakat Betawi.”

 (ziz)
Uploaded Image

Post a Comment

أحدث أقدم