Surakarta, Anekafakta.com– Yayasan KAKAK Surakarta kolaborasi dengan Indika
Foundation mengembangkan Agen Perdamaian berbasis sekolah ini dikembangkan di Kota
Surakarta dengan bekerjasama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakebangpol) Kota
Surakarta dan kantor Cabang Dinas VII Provinsi Jawa Tengah. Pengembangan Agen Damai
dengan 3 sekolah Tingkat atas di Kota Surakarta yaitu SMAN 5, SMKN 6 dan SMA Warga.
Serangkaian kegiatan mulai dari penguatan anak di di 3 sekolah masing-masing yang kemudian
diambil 24 perwakilan anak dari 3 sekolah untuk diberikan peningkatan kapasitas sehingga
mereka bisa mengembangkan upaya mewujudkan perdamaian di sekolah masing masing.
Peningkatan perwakila sekolah dikemas dalam kegiatan Intensive Course GerakDampak
Academy (GDA) 2026. Kegiatan dilakukan 2 hari (29–30 September 2026) di Sekretariat
Bersama kota Surakarta di hari pertama dan Bale Apung Taman Balekambang pada hari ke 2.
Dalam intensive course ini orang muda diberi ruang untuk memimpin diri sendiri, memimpin
orang lain, serta siap memimpin perubahan positif di sekitar mereka khususnya di Tingkat
sekolah mereka.
Direktur Yayasan KAKAK Surakarta, Shoim Sahriyati, S.T menyampaikan, “Pengembangan agen
damai ini sangat relevan untuk menjawab tiga dosa Pendidikan yaitu kekerasan seksual,
perundungan (bullying), dan intoleransi. Ketiga dosa Pendidikan tersebut bisa ditekan jika
anak-anak mampu menghargai dan menghormati keberagaman di sekitar mereka. Dengan
mengembangkan agen damai anak anak akan mengajak pembiasaan baik , menjadi promotor
dan pelindung keberagaman”.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Provinsi Jawa Tengah, Agung Wijayanto, S.Pd.,
M.Pd., mengapresiasi pendampingan Yayasan KAKAK Surakarta dalam mencegah dosa besar
pendidikan tersebut. Ia menilai kegiatan ini mendorong generasi muda untuk tidak hanya
menjadi penonton, tetapi juga agen damai.
“Menjadi agen damai bukan berarti harus menjadi orang besar terlebih dahulu. Sebagai
pelajar, hal-hal sederhana juga sudah termasuk perubahan, seperti tidak melakukan
perundungan, menghargai teman yang berbeda, dan memilih menyelesaikan konflik dengan
dialog daripada kekerasan.”
Ia juga menitipkan tiga pesan sebagai bekal peserta ke depan, yaitu peduli terhadap lingkungan
dan sesama, berani menyampaikan pendapat dengan santun dan bertanggung jawab, serta
berdampak nyata.
Perwakilan Bakesbangpol Kota Surakarta, Sutrisno, S.E., M.Si., menyampaikan pesan senada. “Menjadi agen damai tidak harus dimulai dari hal besar, salah satunya dapat dilakukan dengan
menjadikan lingkungan sekolah sebagai ruang inklusi, aman, dan nyaman.”
Sekolah menurutnya harus menjadi ruang bagi anak untuk belajar hidup bersama dalam
keberagaman, membangun relasi yang sehat, menyampaikan pendapat, dan menyelesaikan
perbedaan tanpa kekerasan.
Penguatan agen damai menggunakan HARMONI yang disusun dalam tiga tahap pembelajaran,
yaitu Lead Self, Lead Others, dan Lead Change. Kurikulum ini tidak disampaikan sekadar dengan
peserta mendengarkan, tetapi peserta juga diajak berdiskusi, bermain peran (role play), dan
mengikuti fun learning outbound agar proses belajar terasa dekat dengan pengalaman nyata.
Pada tahap Lead Self, peserta mempelajari Ngenal Diri, Regulasi Emosi, dan Open Minded
untuk mengenali karakter, kekuatan, kelemahan, dan emosi diri. Tantangan kepemimpinan
tidak hanya terletak pada kemampuan memengaruhi orang lain, tetapi juga mengendalikan diri
sendiri, termasuk dalam mengambil keputusan.
Setelah mampu memimpin diri, peserta melangkah ke tahap Lead Others dengan mempelajari
Hargai Keberagaman dan Membangun Compassion. Melalui tahap ini, peserta belajar
membangun relasi dengan orang lain dengan menghargai keberagaman dan menumbuhkan
empati.
Pada tahap Lead Change, peserta mempelajari Integritas dan Aksi Nyata untuk menerjemahkan
pembelajaran menjadi tindakan. Mereka mengidentifikasi persoalan yang dekat dengan
kehidupan mereka, menentukan perubahan yang ingin didorong, dan menyusun langkah
realistis bersama kelompok.
Setelah Intensive Course, peserta akan melanjutkan proses dengan menjalankan Aksi Nyata di
lingkungan masing-masing. Harapannya, pengalaman ini terus tumbuh menjadi praktik baik di
sekolah dan lingkungan sekitar.
Red
Posting Komentar